Traktir Roti Untukku

Minggu, 13 Februari 2022

The Blue Whisper - Bab 63: Provokasi

Ji Yunhe sepertinya memiliki mimpi yang sangat panjang. 

Ji Yunhe memimpikan Lin Haoqing ketika dia masih kecil. Ji Yunhe membuat dua karangan bunga di lautan bunga di Lembah Pengendali Iblis, satu untuk dirinya sendiri dan yang lainnya untuk Lin Haoqing. Ji Yunhe tertawa bersama dengan seorang remaja seperti saudara lelakinya ini di bawah sinar matahari yang cerah. 

Dan kemudian Ji Yunhe berlari ke kedalaman lautan bunga dan melihat di bawah pohon yang penuh dengan bunga wisteria, Xue Sanyue sedang mencium Li Shu dengan lembut. 

Ji Yunhe merasa sedikit malu, dia menoleh untuk pergi, tapi ketika dia menoleh, dia melihat Luo Jinsang, yang perlahan-lahan muncul dari tembus pandangnya, dan Qu Xiaoxing, yang menyeringai. Kedua orang ini hidup seperti anak-anak. Mereka masing-masing meraih salah satu tangan Ji Yunhe lalu menariknya dan berlari melintasi lautan bunga sampai ke gunung di kejauhan dengan liar dan bebas. 

Ketika mereka mencapai puncak gunung, semua orang menghilang, dan Ji Yunhe hanya melihat laut terbuka yang luas terhampar di depan matanya.

Ada kicauan burung dan nyanyian paus. 

Melihat dari kejauhan, Ji Yunhe melihat ekor ikan besar berwarna putih dan biru di tengah ombak, keluar dari permukaan lautan luas, dan kemudian menyelam lagi.

Ji Yunhe melambaikan tangannya, dan menyaksikan ekor besar itu melayang ke laut cakrawala dan menghilang. Tiba-tiba sebuah bola cahaya terang muncul di tengah langit. Ji Yunhe mengambil langkah menuju tempat di mana cahaya putih berkedip, dan mendapati dirinya berdiri di udara, seolah-olah tangga tak terlihat telah terbentuk di bawah kakinya.

Saat Ji Yunhe berjalan selangkah demi selangkah, dia merasa tubuhnya lebih ringan dari sebelumnya. Semua rasa sakitnya memudar saat dia berjalan lebih tinggi selangkah demi selangkah. Tapi setelah meninggalkan tanah untuk waktu yang lama dan hendak memasuki cahaya, tiba-tiba embusan angin bertiup melewati telinga Ji Yunhe ....

Angin dingin menusuknya sedikit dengan membawa kesejukan yang terasa benar-benar tidak pada tempatnya di dalam dunia mimpi ini.

"Kamu belum bisa pergi."

Suara seorang wanita tiba-tiba terdengar di telinga Ji Yunhe.

Ji Yunhe memutar kepalanya dan melihat sekeliling. Ada cahaya putih di sekelilingnya, dan dia melihat ke arah dari mana angin itu berasal, Ji Yunhe samar-samar merasa bahwa masih ada seseorang yang berdiri di bawah cahaya putih itu. Sosok itu anggun, mengenakan pakaian putih, dengan rambut panjangnya tergerai .... Wanita itu berkata pada Ji Yunhe: "Kamu bisa tinggal sedikit lebih lama."

"Kamu siapa?"

Ji Yunhe bertanya tapi tidak mendapat jawaban.

Tiba-tiba, Ji Yunhe hanya merasa bahwa tangga tak kasat mata di bawah kakinya mulai bergetar. Kemudian, ada ledakan keras, dan tangga itu runtuh. Ji Yunhe tidak siap. Melihat cahaya putih di sekelilingnya tiba-tiba memudar saat dia jatuh tak berdaya ke dalam jurang yang gelap di bawah lagi. 

Tubuh ringan itu jatuh, kemudian dia merasa seolah-olah dia telah menabrak penjara berbentuk manusia, yang basah dan dingin. Itu mengikatnya seperti belenggu besi dan mengunci setiap inci kulitnya.

Ji Yunhe membuka matanya tiba-tiba. 

Ji Yunhe merasa bahwa penjara dan dirinya telah menjadi satu. Dia menggerakkan jari-jarinya dan mengangkat tangan ke wajahnya. Tapi ternyata, penjara itu ... sebenarnya adalah tubuhnya sendiri. 

Lembah Pengendali Iblis, rumah Master Agung, Taman Dingin di tengah danau, penjara terkuat di dunia, ternyata adalah tubuhnya sendiri. Tidak ada yang bisa dibandingkan dengan pemenjaraan daging dan tulangnya sendiri yang layu.

Ji Yunhe melengkungkan bibirnya dan tersenyum, sebelum dia sempat melakukan hal lain, Ji Yunhe tiba-tiba melihat seorang pria berjubah hitam di belakang jari tangannya yang terangkat.

Dia berdiri di ujung tempat tidur Ji Yunhe, selalu di sana, tapi tidak berbicara sampai Ji Yunhe bangun, dia tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia menatap Ji Yunhe, dan di mata biru itu, sepertinya memiliki ribuan pikiran yang tersembunyi, tapi pada saat yang sama, mereka tampaknya tidak memiliki apa-apa.

Angin sepoi-sepoi bertiup ke wajah Ji Yunhe dan menggerakkan rambutnya. Ji Yunhe menoleh dan melihat bahwa jendela yang telah ditutup sepanjang tahun terbuka lebar saat ini. Meskipun di luar siang hari, angin dingin menderu dan bulu angsa jatuh dan sinar matahari tidak terlihat lagi. Banyak kepingan salju yang terbawa oleh angin dingin dan tertiup ke dalam rumah, jatuh di panci arang, membuat suara mendidih mendesis, berubah menjadi asap putih, menghilang ke udara tipis.

Jadi ini adalah sumber angin di dalam mimpinya ....

"Chang Yi ...." Ji Yunhe memanggil namanya, tapi lebih terdengar seperti desahan. "Kenapa mengganggu ...."

Kenapa repot-repot tidak membiarkannya pergi, dan kenapa tidak membiarkan dirinya pergi juga ....

Chang Yi tidak menjawabnya. Pakaiannya sekarang terlihat lebih formal daripada yang biasa dia kenakan saat datang menemuinya. Bahkan rambut peraknya digulung di bawah mahkota, seolah-olah dia baru saja bergegas dari acara yang sangat serius dan penting.

Chang Yi maju selangkah dan duduk di sisi tempat tidurnya, tapi dia tidak memandang Ji Yunhe. Sebagai gantinya, dia melihat panci arang di depan jendela, dan memandangi asap putih yang melayang di atasnya, seolah-olah linglung, dia bertanya:  

"Kamu ingin mati?"

"Tubuhku ini ...." Seluruh tubuhnya lemah dan lemas. Setelah berjuang sebentar, dia duduk dan bersandar dengan kuat di kepala tempat tidur, "Hidup dan mati adalah sama." 

Chang Yi membenarkannya pikirannya: "Kamu ingin mati." Chang Yi berbisik pada dirinya sendiri. 

Ji Yunhe tidak dapat memahami pikiran dan niat Chang Yi, yang jarang terjadi. Dia mengulurkan tangannya dan memegang pergelangan tangan Chang Yi. Chang Yi sedikit terkejut, tapi dia tidak segera membuang tangan Ji Yunhe dan melepaskan diri. Sebaliknya, Chang Yi berbalik ke samping dan menatap Ji Yunhe yang pucat. 

Ji Yunhe berkata: "Chang Yi, tidakkah kamu ingin membalas dendam padaku?" Dia menatap mata Chang Yi, dan pupil biru menatapnya dengan cermat. 

Dan pada saat saling memandang ini, Ji Yunhe tiba-tiba mengumpulkan semua kekuatan di tubuhnya dan membuat tangannya bergerak. Dia menahan pergelangan tangan Chang Yi dengan satu tangan sementara tangan lainnya menarik jepit rambut giok dari mahkotanya. Dalam sekejap, Ji Yunhe mengarahkan jepit rambut ke tenggorokannya sendiri dan menusuk ke bawah.

Tapi pada saat yang sama, tangan Chang Yi yang lain melingkari leher Ji Yunhe dan menjepitnya ke tempat tidur. Tubuhnya jatuh di atas tubuh Ji Yunhe, dan jepit rambut jatuh ke punggung tangannya.

Pukulan Ji Yunhe adalah kekuatan penuh tanpa menahan diri, dan blokiran Chang Yi sangat tidak terduga. 

Jepit rambut hampir menembus seluruh ketebalan tangannya dari belakang ke depan. Darah mengalir keluar dan menodai leher dan dada Ji Yunhe, membuatnya menjadi merah semua. Dan darah merah cerah itu juga mengalir ke bagian dalam saku rok Ji Yunhe, dan garis lehernya juga terkena oleh darahnya. 

Ji Yunhe menatap Chang Yi dengan kaget.

Tangannya terlepas dari cengkeraman Ji Yunhe. Pada saat ini, dia menahan pergelangan tangan Ji Yunhe dan menekan pergelangan tangan Ji Yunhe di tempat tidur. Sementara tangannya yang lain berada di leher Ji Yunhe, dengan jepit rambut tertancap di sana, masih mengalirkan banyak darah. Rambut perak panjangnya seperti rumbai yang menggantung, menutupi wajah mereka, seperti kerudung yang memisahkan mereka dari dunia luar.

"Apa hakmu untuk mengakhiri hidupmu sendiri?"

Chang Yi menatap Ji Yunhe. Arus gelap mengalir di dalam pupil mata yang menatap Ji Yunhe. Semua emosi yang telah disembunyikan dan ditekan sekarang diseduh menjadi kemarahan yang mengerikan. Dia menanyai Ji Yunhe, "Beraninya kamu?"

Ji Yunhe memutuskan untuk menjadi kejam. Dia mengabaikan luka di tangan Chang Yi, menatap langsung ke arah Chang Yi, dan dengan kejam berkata, "Enam tahun yang lalu, angin dingin di tebing tidak cukup dingin, bukan?"

Chang Yi membeku, warna biru di pupilnya semakin gelap dan mendung.

Ji Yunhe terkekeh sinis di sudut mulutnya dan berkata, "Aku mencoba memanfaatkanmu saat itu, tapi kamu melarikan diri. Aku sudah memberitahumu bahwa jika kamu tertangkap setelah itu, kamu pasti akan melalui siksaan dan hukuman tanpa akhir atas pemberontakanmu. Demi persahabatan kita, aku memutuskan untuk berbelas kasih dan tidak ingin mengirimmu ke Putri Shunde untuk menderita, jadi aku ingin membunuhmu dan mengakhiri rasa sakitmu." 

Tangan yang diletakkan Chang Yi di leher Ji Yunhe perlahan semakin mengencang. 

Ji Yunhe melanjutkan, "Tanpa diduga, kamu lolos dan aku malah dihukum oleh sang putri untuk ini. Dan sekarang kamu telah membuatku menderita seperti ini, dan bahkan tidak akan membiarkanku mati."

Tangan Chang Yi sekarang mengencang, membuat Ji Yunhe sulit bernapas, tapi Ji Yunhe masih menggertakkan giginya dan terus berkata, "Chang Yi, kamu benar-benar memiliki hati yang lebih kejam daripada aku saat itu."

Setelah mengatakan itu, warna mata Chang Yi berubah dari warna langit menjadi lautan badai, berputar-putar dengan warna biru tua dan hitam.

Tangan Chang Yi mengerahkan lebih banyak kekuatan dan darah menyembur keluar dari lukanya, tapi Chang Yi tampaknya tidak merasakan sakit.

Ji Yunhe menutup matanya.

Sampai wajah Ji Yunhe mulai membiru, tangan itu akhirnya meninggalkan leher Ji Yunhe.

Dengan udara tiba-tiba mengalir kembali ke rongga dadanya, Ji Yunhe terkesiap dan terbatuk karena tersedak.

Tapi Chang Yi duduk dan berkata, "Ji Yunhe, kamu benar." Dia memandang Ji Yunhe. "Aku tidak akan membunuhmu, jadi kamu bisa terus menderita." Dia berjalan keluar dari pintu dan memerintahkan para pelayan, "Singkirkan panci arang ekstra dan biarkan hanya satu yang tersisa. Minta seseorang menjaga jendela dan buka hanya celah kecil saja. Juga, kirim dua orang untuk menjaga pintu. Tanpa perintahku, mereka tidak diizinkan pergi." 

Suara luar menghilang, Ji Yunhe melihat salju tebal yang turun di luar rumah, dan kemudian pada pelayan yang datang meringkuk melalui pintu.

Mereka mengambil panci arang satu per satu dan menutupi jendela, hanya menyisakan sedikit celah untuk ventilasi.

Mereka-masing dari mereka sibuk mengerjakan tugas mereka dan tidak berani menatap Ji Yunhe di tempat tidur. 

Ji Yunhe menghela napas panjang, kali ini benar-benar selesai. Dia tidak bisa bunuh diri lagi sekarang karena dia telah tertangkap basah, niatnya terungkap dan pikirannya terlihat. Dia bahkan mengeluarkan masa lalu yang buruk untuk memprovokasi Chang Yi, dan itu masih tidak berhasil. Ji Yunhe menyentuh lehernya, dan telapak tangannya berlumuran darah lengket.

Ji Yunhe menutup matanya dan menggebrak tempat tidur. "Bajingan mana yang menghalangi jalanku ke langit?"

Para pelayan gemetar. Mereka masih tidak berani menatapnya, tapi gerakan di tangan mereka menjadi lebih cepat. Ji Yunhe menghela napas lagi, dan bertanya-tanya hubungan canggung macam apa yang dia dan Chang Yi miliki di mata para pelayan mereka.

¤¤¤☆♡☆♡☆¤¤¤

Sepanjang hari berikutnya, kamar Ji Yunhe penuh dengan orang-orang yang datang dan pergi. Suatu saat seseorang akan membawa meja panjang, saat berikutnya seseorang akan meletakkan lemari kabinet. Para pelayan sibuk naik dan turun, sepanjang hari dan malam. Ji Yunhe akhirnya menemukan kesempatan dan menangkap seseorang yang terlihat seperti yang bertanggung jawab dan bertanya, "Apa kalian ingin merombak tempat ini?"

Pria itu dengan hormat menjawab, "Anda sangat beruntung, Tuan akan pindah dan tinggal di sini di masa depan." 

Ji Yunhe tercengang sesaat dan dia bahkan tidak bisa mengerti arti dari kalimat yang diucapkannya: "Hah?" Ji Yunhe mengedipkan matanya dua kali, "Siapa? Memindahkan apa?"

"Tuan, Nona. Tuan kemarin memerintahkan bahwa mulai sekarang, semua urusan resminya akan dilakukan di halaman kecil di tengah danau ini."

Tubuh Ji Yunhe sedikit bergoyang.

Dia melanjutkan, "Tapi Nona jangan khawatir, Tuan telah memerintahkan untuk tidak mengganggu istirahat Anda di siang hari. Tuan akan menambahkan tirai segel untuk Anda, tidak akan ada suara yang bocor."

"Ti ... tirai segel?" Ji Yunhe tampak tidak percaya. "Di mana? Tempat tidurku? Bukankah gedung ini memiliki tiga lantai?!"

"Ya, tapi Tuan hanya menyukai lantai ini."

Setelah mengatakan ini, pria itu memberi hormat, mundur ke pintu dan pergi untuk kembali bekerja.

Ji Yunhe duduk di tempat tidur dengan kaku dan tatapan kosong. 

Ji Yunhe tiba-tiba merasa ... seperti ... dia telah melakukannya lagi.

Wilayahnya ... sekarang telah diperkecil menjadi ukuran tempat tidur.

~~====~~

    
Diterjemahkan pada: 17/07/21


Sebelumnya - Selanjutnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

The Blue Whisper / 驭鲛记 Terjemahan Bahasa Indonesia

Putri Shunde menangkap Iblis Jiaoren dan ingin mencari seseorang untuk membantu menjinakkannya. Tugasnya melibatkan tiga permintaan, satu ag...